Rahasia Kehidupan
Rahasia Kehidupan
(Maysarah Silalahi)
Hari sudah petang. Fitri melihat sebuah mobil Avanza telah parkir di
depan rumah. Dia memastikan semua keperluan yang akan dibawa suaminya telah
siap. Sebuah travel bag besar dan perlengkapan di perjalanan bertengger di
sudut teras. Perlahan diperhatikannya suaminya memasukkan perlengkapan itu ke bagasi
mobil. Sebagai istri seorang aparat ia harus terbiasa ditinggal tugas di luar
daerah. Termasuk hari ini. Ia harus merelakan suaminya ditugaskan pengamanan
pelaksanaan pesta demokrasi di kabupaten lain. Ia harus mengubur harapan
utamanya dalam menyambut anak pertama mereka; persalinan yang ditemani suami.
“Uti yakin gak apa-apa Mas
tinggal?” tanya suaminya memastikan keadaan istrinya baik-baik saja.
“Insya Allah tidak apa-apa, Mas. Kan ada Ibu di sini.” Jawab Fitri.
“Oke, kalau ada apa-apa telpon Mas ya! Ini disimpan!”, Ia mencium kening
istrinya. Sehelai sapu tangan diselipkan di kantong gamis Istrinya. Candra
menyalami dan tak lupa mengelus perut istrinya yang sudah sangat membuncit. Membisikkan
sesuatu, seolah berpamitan kepada calon anaknya.
“Iya, Mas. Mas fokus saja kerja. Masyarakat lebih membutuhkan Mas dalam pesta demokrasi ini. Insya Allah semua berjalan lancar. Kan, Dokter juga bilang
kalau keadaan calon dedek kita baik-baik saja.” Fitri menyalam takzim dan
mencium punggung tangan suaminya. Berusaha meyakinkan suaminya walaupun sejujurnya
ia sangat mengharapkan akan keberadaan suaminya ketika tiba saatnya bersalin
nanti. Ia melepas kepergian suaminya bersama rombongan. Lamat ia menatap sampai
mobil itu hilang di tikungan kampung. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa
pilu dan sesak dirasakan jauh di lubuk hatinya.
Dua minggu telah berlalu. Beberapa hari ini Fitri merasa sulit tidur, nafsu
makan yang kurang dan rasa cemas yang tidak menentu. Masa persalinan yang
tinggal menghitung hari membuatnya cukup tegang. Segala persiapan telah dibuat.
Beberapa kali dia mencoba mengirim pesan kepada suaminya lewat whattsapp. Tetapi
nihil. Tempat suaminya bertugas merupakan daerah pedalaman yang masih belum
mendapat akses internet. Komunikasi lewat telepon seluler pun hanya beberapa
kali tersambung. Itu pun jika cuaca bagus. Ia hanya bisa pasrah.
“Ada banyak rahasia dalam
kehidupan ini, Ti. Kadang kita hanya bisa berencana. Namun Allahlah Sang Maha
Penentu segalanya,” bisik Candra suatu malam.
“Maksudnya, Mas?”
“Suatu saat, Uti akan paham.” jawab suaminya datar. Fitri hanya termangu.
Terngiang-ngiang kembali kata-kata suaminya sebulan yang lalu.
Hingga tiba saatnya pesta demokrasi.
Candra sudah harus berada di lokasi TPS tepat pukul 06 dini hari. Ia berangkat
dari Pos Jaga kecamatan setelah Subuh. Jarak tempuh yang jauh dan medan yang
curam membuatnya harus ekstra hati-hati. Sepeda motor yang ia kendarai ia
parkirkan tepat di sebelah TPS. Perjalanan menuju lokasi cukup membuatnya lelah.
Sambil menunggu petugas berkemas, ia menuliskan pesan singkat kepada istrinya.
[Assalamu’alaikum, Ti. Mas sudah di lokasi. Uti jaga kesehatan, ya! Demi
anak kita! Kalau ada apa-apa kabari Mas]. Namun sampai siang hari pesan
tersebut belum juga terkirim. Ia coba menghubungi. Tapi sia-sia. Jaringan sama
sekali tidak ada di lokasi itu. Setelah Ashar, ia mencoba mengirim ulang pesan
itu. Namun hasilnya nihil. Pesan tidak terkirim. Perasannya mulai was-was. Namun
ia tetap berusaha fokus pada tugasnya.
Proses perhitungan yang berjalan sampai larut malam membuat Candra lupa
waktu. Rasa lelah setelah seharian penuh bertugas terlihat jelas di wajah
mereka. Pukul 01.30 dini hari semua petugas KPPS harus membawa segala
perlengkapan dan hasil rekapitulasi ke kantor Kepala Desa. Beruntung ketua KPPS
memiliki kendaraan pickup yang biasa dibawa ke kebun. Semua Anggota KPPS, kotak
suara, serta satu orang Pengawas TPS ikut dalam rombongan itu. Candra segera
bersiap siap mengiringi dengan sepeda motornya.
Jalanan yang sempit dan curam membuat perjalanan alot. Beberapa kali mereka harus turun bahkan ikut
mendorong mobil ketika jalanan parah dan berlumpur. Mujur tak dapat diraih,
malang tak dapat ditolak. Ttiba di tikungan Kampung Bukit, mobil pickup
tersebut tiba-tiba berhenti mendadak. Mesin mati. Candra yang berada persis
dibelakang mobil tidak menyadari hal itu. Ia hilang kendali ketika tiba-tiba
mobil mundur dengan sendirinya. Semua yang ada di dalam mobil menjerit histeris ketika mobil membentur
sepeda motor Candra. Ia pingsan tak sadarkan diri.
****
Fitri memilih untuk tidak ikut memilih. Sesuai hasil USG seharusnya hari
ini adalah hari persalinannya. Anehnya ia tidak merasakan apa-apa. Ketika
hendak ke kamar, Ia dikejutkan oleh seekor cicak yang tiba-tiba jatuh tepat di
depannya. Jantung Fitri bagai berhenti berdetak beberapa saat. Ia teringat akan
suaminya. Perasaannya campur aduk: cemas, gelisah dan juga penasaran. Tanpa ia
sadari sudah ada darah segar merembes di leging yang ia kenakan. Spontan Ia
panggil ibunya.
“Bu..., Sini, Bu!” panggil Fitri
“Astaghfirullaah!. Kenapa, Fit? Jangan-jangan kamu sudah mau lahiran
ini?” Ibunya terkejut melihat kondisi anaknya. Dengan cekatan ia memapah Fitri
membawanya ke ruang tamu.
“Tidak apa-apa, Bu. Tadi Fitri Cuma terkejut. Terus kepikiran Mas Candra.
Takut terjadi sesatu padanya, Bu.” Fitri terlihat cemas.
“Hus, jangan percaya tahayyul. Enggak
usah pikirkan Candra dulu! Lagian dia pasti sibuk. Lihat kondisimu sekarang. Mulas,
ya?” tanya ibu lagi. “Bersiaplah. Kita ke rumah sakit sekarang.” Timpal ibunya
sembari bergegas membawa perlengkapan Fitri menuju garasi. Ada yang tidak beres
dengan kandungan Fitri, batinnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, berulang kali Fitri mencoba
menghubungi suaminya. Tetapi tetap saja tidak tersambung. Fitri merenung.
“Mari, Nak. Silakan berbaring. Tante cek sebentar ya. Fitri jangan tegang.
Tenang saja. Hal seperti ini wajar dialami ibu muda. Apalagi ini anak
pertamamu.” Suara dokter Neva terdengar lembut. Ia memeriksa riwayat rekam
medik Fitri dan dengan sigap memeriksa tekanan darah, berat badan dan
membaringkan Fitri untuk memeriksa denyut jantung janinnya. Sementara Bu Siti
sudah mempersiapkan segala kemungkinan jika pun Fitri harus Operasi Sesar.
Fitri hanya mengangguk. Kecemasan jelas terlihat di wajahnya. Namun, Ia
berusaha tetap tenang sembari melafazkan dzikir pelan dalam lisannya. Robbi Yatssir, walaa tu’atssir, robbi taammim
bil khoir; (Ya Allaah, permudahkanlah urusanku, jangan disulitkan, ya
Allaah berikanlah dengan akhir yang baik).
Ditahan ya, Fit! Akan sedikit sakit. Kita Pastikan dulu apa sudah buka
jalan atau belum.” Kata dokter Neva. Seharusnya sudah ada kontraksi yang
dirasakan Fitri. Namun sejauh ini belum ada reaksi apa-apa. Ia segera memeriksa
kondisi jalan lahir Fitri. Segumpal darah tiba-tiba keluar dari jalan lahirnya.
Keningnya berkerut. Ia bersihkan dengan cekatan. Namun tetap saja rembesan
darah itu tidak berhenti. Malah semakin banyak sampai membasahi lantai ruangan
itu.
“Suster, siapkan peralatan! Pasang infus! Kita ke ICU!” perintah Dokter
Neva kepada perawatnya. Dengan cekatan dua orang perawat memindahkan Fitri ke
bangsal dan membawanya keluar ruangan itu. Fitri terlihat lemas dan wajahnya
pucat pasi seperti kertas.
“Fitri kenapa, Dok?” tanya Bu Siti cemas ketika melihat bangsal anaknya
dibawa perawat ke ruangan lain. Serta merta ia menggenggam tangan putrinya.
Diambilnya handphone Fitri yang hampir terjatuh dari genggamannya. Ia Panik.
“ Kita akan adakan cek lanjutan. Fitri pendarahan! Padahal beluam ada
bukaan”
Dalam sekejap, beberapa keluarga dekat Candra sudah hadir di rumah sakit.
Bu Fatimah-orang tua Candra terlihat panik. Beberapa kali ia bolak-balik
melihat dari pintu ruangan ICU.
Demi melihat Dokter Neva keluar, mereka langsung memburunya dengan
pertanyaan yang bertubi-tubi. Dokter Neva terlihat lemas. Raut wajahnya
menyiratkan sedang ada masalah besar yang dihadapi Fitri.
“Suami Fitri mana?” hanya kalimat itu yang terucap.
“Sedang tugas di luar kota, Dok! Dia tidak bisa datang. Bagaimana dengan
Fitri, Dok? Apa yang terjadi padanya?” Bu Siti tidak sabar ingin melihat
kondisi putrinya.
“Kami tidak bisa berbuat apa-apa.
Kita hanya punya satu pilihan. Ibu atau anaknya” kata dokter Neva.
“Tidak bisa, Dok!” Selamatkan anak
dan cucuku!” Tadi dokter bilang semua baik-baik saja! Dokter bohong!” ia
mencecar sembari mengguncang lengan baju Dokter Neva. Pak Burhan berusaha
menenangkan dan menepuk bahu istrinya.
“Kami sudah berikan yang terbaik
dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jalan satu-satunya adalah Fitri harus operasi
dan kemungkinan untuk selamat itu hanya salah satunya saja. Jadi kami perlu
persetujuan suaminya untuk tindak lanjut.” Dokter Neva menjelaskan.
Pak Burhan segera teringat akan Candra. Ia mencoba untuk menghubunginya. Namun,
beberapa kali ia mencoba hubungi, tidak ada jawaban. Pada saat yang sama
handphone milik Fitri yang ada pada Bu Siti berdering. Pemberitahuan pesan masuk.
Spontan Bu Siti membuaca pesan itu.
[Assalamu’alaikum, Ti. Mas sudah di lokasi. Uti jaga kesehatan, ya! Demi
anak kita! Kalau ada apa-apa kabari Mas].
Antara sedih, haru dan waswas Bu Siti langsung menghubungi nomor
menantunya itu. Tapi sama saja. Tidak ada jawaban. Spontan Bu Siti membalas
pesan itu.
[Kondisi Fitri kritis. Sekarang dia di rumah sakit. Segera pulang! Ibu]
sent.
Lama mereka menunggu. Tidak ada jawaban. Bu Fatimah mencoba menghubungi
nomor anaknya. Hasilnya sama. Akhirnya diputuskan yang menandatangani surat
jaminan operasi adalah Pak Burhan. Fitri tidak sadarkan diri ketika dibawa ke
ruang operasi. Keluarga pasrah, menunggu di luar ruangan dengan harap-harap
cemas. Tanpa disadari mereka sudah menunggu selama 4 jam.
Bu Siti, Pak Burhan dan besannya terlihat mulai gusar. Mondar-mandir di
depan ruang operasi sambil sesekali mengintip ke dalam. Duka menyelimuti
keluarga Fitri. Kondisi Fitri masih kritis. Keluarga belum diperbolehkan untuk
masuk. Bayinya dimasukkan ke inkubator. Sangat tipis kemungkinan bisa selamat.
Dokter menjelaskan saluran pernafasan anak Fitri bermasalah karena telah
menghirup banyak darah.
“Kita tunggu satu malam ini. Kalau tidak ada perkembangan, apa boleh
buat. Kita hanya bisa pasrah. Semua sudah ketentuan Sang Maha Kuasa” Kata
dokter Neva.
****
Candra terkejut. Ketika sadar ia mendapati dirinya telah berbaring di
Bangsal Rumah sakit. Tidak ada seorang pun ia dapati di ruangan itu. Lengan
kirinya harus dipasang pen. Ia berusaha mengumpulkan semua memori tentang
tragedi yang baru saja dialaminya.
“Ya Allah, bagaimana ini,?
Bagaimana aku memberitahu keluarga? Bagaimana keadaan Fitri?” beberapa
pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya
“Syukurlah kau sudah sadar, Can. Jangan banyak bergerak dulu! Kami sangat
khawatir dengan kondisimu. Kami coba hubungi nomor telepon rumah mertuamu, Tapi
tidak ada yang angkat.” Papar Roni.
“Kamu lihat jaketku, Ron? HP kumasukkan dalam kantong semalam!” tanya
Candra tak sabar. Roni bergegas menuju tempat penitipan barang. Diberikannya
jaket itu kepada Candra.
Begitu diaktifkan beberapa pesan masuk dan puluhan panggilan yang tidak
terjawab tertera di layar Hpnya. Ia fokus ke nomor Fitri.
[Kondisi Fitri kritis. Sekarang dia di rumah sakit. Segera pulang! Ibu]
Bagai tersengat listrik, tanpa disadari HP terjatuh ke lantai. Raut wajah
Candra berubah tegang. Ia berusaha berdiri sembari berpegangan pada Roni.
“Tenang, Can. Kondisimu masih parah. Istirahatlah dulu!” Roni berusaha
mencegah.
“Tidak Ron! Tolong... tolong bantu aku! Anakku Ron... Anakku akan
lahir...! Fitri ada di sini!” Candra tak kuasa membendung airmatanya. “ Ya
Allaah, selamatkan Fitri....Selamatkan anak kami....”ia mencoba melangkah. Tapi
gagal. Ia terjatuh ke lantai, Roni merasa miris melihat keadaan sahabatnya.
Perlahan ia menopang tubuh Candra. Memapahnya menuju ruang administrasi dan
menanyakan ruangan bersalin. Salah seorang perawat memberikan kursi roda.
Candra duduk dan digiring sahabatnya menuju ruang ICU.
Candra menjerit ketika ia lihat kerumunan keluarganya mengelilingi
sesosok bayi berbalut kain putih di tangan dokter. Isak tangi pilu terdengar di
seluruh ruangan itu.
“Ibu...” Candra berteriak “Ada apa ini? Mana Fitri, Bu? Anakku baik-baik
saja, kan?” Bu Fatimah menghambur
memeluk anaknya. Ia semakin histeris demi melihat kondisi Candra yang berbalut
perban dan masih terpasang infus. Ia menangis. Lidahnya kelu. Sepatah kata pun
tak sanggup terucap dari mulutnya. Ia hanya mengucap Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.
Pak Burhan mengambil bayi Candra dari tangan dokter.
“Ikhlaskan, Nak” Semua sudah kehendak Allaah. Kita semua sudah berusaha.
“Izinkan aku mengazankannya, Pak.”
Boleh kan, Dok? Saya melihat kondisi Fitri bersama anak saya.” pinta Candra
hampir tak terdengar.
“Mari!” ajak Dokter Neva. “Tapi yang lain harap tunggu diluar saja!”
Dokter meletakkan bayi itu di pangkuan Candra. Terlihat wajah Fitri yang
pucat masih terpasang selang oksigen. Sehelai sapu tangan tercengkram kuat di
tangannya. Candra mendekat. Diraihnya tangan Fitri. Diciumnya lembut.
Dipandanginya istri dan bayinya secara bergantian. Ia menarik nafas
dalam-dalam. Perlahan, dengan memejamkan mata Candra mengumandangkan azan di
ruangan itu. Dengan hati yang basah, khusuk, Ia menyeru. Memanggil dan
mengagungkan Asma Allah. Menembus kalbu setiap yang mendengarnya. Pasrah akan
semua ketentuan yang telah dijalaninya. Dan dipertengahan azan, Dokter Neva
terkejut. Wajah bayi Candra berubah merona. Allahu Akbar! Ini mukjizat. Ia
berseru pelan. Belum sempat hilang rasa penasarannya tiba-tiba bayi itu
bergeming dan menggerakkan kepalanya. Seakan mengamini seruan ayahnya. Tubuh
Dokter Neva gemetar. Seumur hidup dalam menangani pasien, baru kali ini ia
mengalami kejadian seperti ini. Ia tak henti-hentinya bertakbir, menagis haru
sembari menunggu Candra selesai menumandangkan azan.
Jari tangan Fitri perlahan bergerak. Ia tersadar demi mendengar suara
tangisan bayi di sebelahnya. Ia membuka mata. Melihat sekelilingnya. Ia
mendapati suaminya duduk di sebelahnya dengan memangku seorang bayi. Ingin ia
bangun dan memeluk suami dan anaknya. Tapi ia tak kuasa. Hanya air matanya yang
mengalir deras membasahi bantalnya. Air mata bahagia.
“Akhirnya Mas datang....” ucapnya hampir tak terdengar.
Candra perlahan berbisik di telinganya. “Ada banyak rahasia dalam kehidupan ini, Ti. Kadang kita hanya bisa
berencana. Namun Allah-lah Sang Maha Penentu segalanya. Terima kasih sudah
memberiku seorang jagoan!” Ia tersenyum dan mencium kening istrinya.
“Fabi ayyi’alaa’i robbikumaa
tukadzdzibaan [Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan].” Serentak
mereka melafazkan sebaris kalam Illahi.
#####



Komentar
Posting Komentar